Oleh: Muslich Taman, Guru SMAN I Rumpin, KCD Wil. I, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
SwaraBogor.com | Bogor – Di tengah gemuruh zaman, di mana tantangan pendidikan semakin kompleks dan tak ringan, para guru Indonesia kembali menegaskan satu janji suci: tetap berjuang. Di peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2025, kita hendak menengadahkan hati, mengangkat doa, sekaligus merayakan tekad para pendidik yang tak pernah layu.
Suara Hati di Balik Papan Tulis.
Menjadi guru hari ini tidak lagi sekadar menyampaikan materi. Ada tanggung jawab dan tantangan besar yang dihadapi: tantangan kriminalisasi, kewajiban administrasi yang beraneka ragam, hingga kebutuhan adaptasi cepat di era teknologi yang pesat. Kasus di SMAN 1 Cimarga, Lebak Banten, di mana Kepala Sekolah dinonaktifkan (sesaat) setelah menindak (menampar) murid yang merokok, telah mengguncang nurani banyak guru.
Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, menegaskan bahwa menegakkan tata tertib di sekolah adalah bagian dari amanah mendidik — bukan kejahatan, (detiknews). Komnas Pengendalian Tembakau pun memberi apresiasi, menyebut tindakan guru tersebut sebagai bentuk komitmen melindungi generasi muda dari bahaya. (suara.com).
Kasus seperti ini bukanlah satu-satunya. Insiden serupa pernah terjadi di daerah lain — guru menegur, murid memberontak, dan ulah orang tua kadang ikut menyeret. Karena itu, suara para guru pun semakin bulat: “Kami tak akan takut untuk terus mendidik, sepanjang dalam koridor aturan. Demi masa depan bangsa.”

Di Tengah Badai, Tekad Kami Teguh.
Beban guru semakin berat: bukan hanya mengajar, tetapi membimbing dan mendampingi siswa sebagai manusia, bukan sekadar karena angka di rapor. Kami menyadari bahwa di tangan inilah masa depan bangsa digenggam — murid-murid adalah calon pemimpin, pemikir, pemecah masalah, dan pembawa perubahan.
Menegakkan disiplin, bukan untuk mendominasi, melainkan semata-mata untuk mencetak karakter. Membimbing dengan kasih sayang dan tegas, agar anak-anak tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak dan berkarakter. Menghadapi kemajuan teknologi, dengan terus belajar, agar gaya mengajar relevan dan inspiratif. Berani menyuarakan kebenaran, meski menantang dan kadang menyakitkan.
Kami percaya bahwa perjuangan para guru hari ini akan membuahkan panen karakter di masa depan — generasi penerus yang siap memimpin negeri dengan integritas, kecerdasan, dan empati.
Kisah Seorang Pendidik di Ujung Negeri.
Bayangkan seorang guru di desa terpencil, yang setiap pagi menyeberangi sungai dan mendaki bukit demi mengajar murid-muridnya. Dia mendidik bukan karena materi, tetapi karena keyakinan bahwa pendidikan adalah jembatan antara mimpi dan kenyataan, pemutus rantai kebodohan dan keterbelakangan. Di kota besar pun, ada guru yang pulang larut malam, mendampingi kegiatan murid, menyiapkan administrasi, mengoreksi tugas, sambil menjaga semangat agar murid-muridnya tidak kehilangan harapan.
Di sinilah letak kekuatan guru sejati: bukan sekadar pengajar, tetapi penjahit harapan di hati anak-anak bangsa. Lentera yang menyinari kegelapan.

Penghormatan dari Seberang Zaman.
Para guru tak pernah sendiri dalam perjuangan ini. Sepanjang sejarah pemikiran dunia, filsuf dan pendidik besar memuji peran guru dengan kata-kata sakral:
John Dewey, filsuf pendidikan modern, pernah menyatakan bahwa peran guru sangatlah mulia. Menurutnya, “Guru yang sukses, memiliki hasrat tak tergoyahkan untuk memajukan pertumbuhan intelektual anak-anaknya.”
Sedangkan Michel de Montaigne, menekankan bahwa pengalaman adalah kunci pembelajaran: guru sejati membawa murid pada penemuan melalui interaksi manusia dan pengalaman nyata.
José María Arizmendiarrieta, pendidik dan pemikir sosial, berkata, “Manusia dibentuk melalui pelatihan … menyalakan secuil harapan lebih baik daripada mencelupkan dalam kegelapan.”
Dari tradisi pemikiran Barat hingga Timur, ada ungkapan, “A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.” — kata Henry Brooks Adams.
Begitu pula dalam Islam, para pejuang ilmu, baik yang menuntut ilmu lebih-lebih yang mengajarkannya, adalah orang-orang pilihan yang diangkat derajatnya oleh Tuhan, (Al-Mujadalah: 11).

Doa dan Harapan: Menengadahkan Hati.
Tuhan, teguhkan tekad kami — kami memohon kepada-Mu agar kami selalu diberi kekuatan: Ketika rasa takut menyerang, biarkan keyakinan menguat. Saat beban administrasi menyesakkan, tolong kami agar tetap ikhlas melayani. Di hadapan perubahan zaman, anugerahkan kecerdasan untuk berinovasi. Dalam menghadapi konflik dan ketidakadilan, tanamkan keberanian untuk tetap berdiri di jalan kebenaran.
Tuhan, jadikanlah kami guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mencintai. Guru yang tak sekadar menyampaikan ilmu, tetapi menanam nilai, menyalakan harapan, dan membimbing dengan hati. Menyirami kalbu yang kering dan menyambung asa yang putus.
Janji di Hari Guru.
Pada peringatan Hari Guru Nasional tahun ini, mari kita bersama-sama meneguhkan tekad. Kepada para guru: tetaplah berjuang, jangan mengeluh dan menyerah. Kepada orang tua dan masyarakat: hargailah perjuangan mereka. Kepada pemerintah: lindungi dan hormati guru, karena merekalah benteng tegaknya bangsa. Pondasi kokohnya peradaban. Dan penerang gelap gulita kehidupan.
Di hari yang bersejarah ini, kita memanjatkan doa dan janji: Tuhan, teguhkan tekad kami untuk terus berjuang. Karena melalui tangan guru, masa depan Indonesia terbentang — penuh harapan, penuh cahaya, dan penuh cinta. Amin.(*/Red).
