MERAJUT RINDU, MENGUATKAN DESA Indahnya Kebersamaan Lintas Generasi Warga Ds. Pekalongan

Oleh : Muslich Taman, Diaspora Pati di Bogor, Penulis Buku Kado Keluarga Bahagia

SwaraBogor.com | Kabupaten Pati – Lebaran selalu punya cara istimewa untuk memanggil pulang. Ia bukan sekadar perayaan, melainkan ruang pertemuan hati—tempat rindu yang lama terpendam akhirnya menemukan pelukannya. Itulah yang terasa dalam Reuni Entut Gedang, temu kangen warga Ds. Pekalongan lintas generasi yang tersebar di penjuru Nusantara. Acara dikemas rileks, hangat dan penuh makna. Bertempat di Cangkruk Kencana Ds. Pekalongan, Jl. Raya Pucakwangi–Winong Kab. Pati.

Sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 00.30 WIB, balai Cangkruk Kencana menjadi saksi hidup kebersamaan lintas generasi. Remaja, pemuda, orang tua, hingga para sesepuh, semua duduk lesehan dalam satu lingkaran yang sama. Tak ada sekat usia, tak ada jarak status. Semua melebur dalam satu identitas: warga Ds. Pekalongan.

Momentum Lebaran memang menjadi waktu yang paling tepat. Mereka yang merantau kembali pulang, membawa cerita, pengalaman, dan semangat baru. Diaspora desa yang tersebar di berbagai daerah hadir, bukan sekadar untuk melepas rindu pada orangtua dan keluarga, tetapi juga untuk ikut memikirkan masa depan tanah kelahirannya.

Acara dimulai dengan pembukaan yang sederhana namun khidmat, dilanjutkan sambutan Kepala Desa yang menyampaikan rasa syukur dan bangga atas antusiasme warganya. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kekuatan desa terletak pada kebersamaan warganya. “Membangun desa bukan hanya tugas aparat desa, tetapi tanggung jawab kita semua,” tuturnya penuh harap.

Kepala Desa juga menyampaikan pesan yang sangat mendalam dan menggugah hati, bahwa perbedaan adalah keniscayaan, namun persatuan adalah pilihan yang harus dijaga. “Kita boleh berbeda, tetapi kita harus tetap bersama,” tegas Pak Kades Ukhwaturroi. Desa ini hanya akan kuat jika warganya berjalan beriringan, bukan saling meninggalkan. Apalagi saling menyalahkan dan menjatuhkan.

Suasana semakin hidup ketika Pak Asyhar Pong sering melontar joke yang selalu mengundang gelak tawa semua peserta. Sangat lucu dan kadang vulgar. Sesi berbagi pengalaman dan gagasan dari perwakilan diaspora pun dimulai. Satu per satu beberapa dari mereka bercerita—tentang perjuangan di perantauan, tentang pelajaran hidup, hingga ide-ide segar untuk kemajuan desa. Ada Pak Hakim Fahrur, Pak Guru Muslich, Pak Staf Ahli MA Sofaul Qolbi, Pak Prof. Rosyd, Pak Papik Rafiq, dan Pak Hardi.
Dari cerita-cerita yang ada, lahir inspirasi, semangat, dan kesadaran bahwa Ds. Pekalongan memiliki potensi besar jika dikelola bersama.

Diskusi berlangsung cair, diselingi canda yang membuat suasana semakin hangat. Tidak ada kesan formal yang kaku. Semua berbicara dengan hati, mendengar dengan empati, dan saling menghargai. Yang tua dan banyak pengalaman, tidak mesti harus banyak bicara.

Acara yang dipandu dengan penuh kebijaksanaan oleh Bung Haji Ahmad Toha ini berjalan penuh makna, namun tetap santai. Sosok beliau sebagai cendekiawan desa yang selama ini konsisten membangun sumber daya manusia, terasa begitu kuat. Dengan gaya intelek yang komunikatif dan penuh kehangatan, beliau mampu menjaga alur diskusi tetap hidup.

Menjelang akhir acara, dirumuskan beberapa kesimpulan penting sebagai langkah awal kontribusi nyata bagi pembangunan desa. Kepala Desa dalam penutupnya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada seluruh warga yang telah hadir dan berpartisipasi. Beliau juga menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi kegiatan serupa di masa mendatang.

“Semoga pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi menjadi awal dari gerakan bersama untuk memajukan Ds. Pekalongan,” ungkapnya penuh optimisme.

Kehadiran tokoh-tokoh seperti Haji Qohar, Pak Asyhar Sutamat, Haji Dhofir, Pak Muslih Imron, Prof. Rosyid, Doktor Sofau, Pak Sururi Makruf, Pak Asyhar Amin, Pak Imam Kamituwo, Kyai Husaini, hingga para pemuda seperti Mas Aris, Mas Barok, dan Mas Ulin, serta para peserta lain lewat zoom, semakin memperkaya dinamika pertemuan. Mereka adalah potret nyata kekuatan desa—perpaduan antara kebijaksanaan masa lalu dan energi masa depan.

Dalam momen seperti ini, kita diingatkan pada kata bijak Mahatma Gandhi, “Masa depan suatu bangsa bergantung pada apa yang dilakukan di desa-desa.” Begitu pula Nelson Mandela pernah berkata, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Dua kutipan ini seolah menegaskan bahwa membangun desa berarti membangun manusia —dan membangun manusia membutuhkan kebersamaan.

Lebih dari sekadar pertemuan, acara ini adalah cermin harapan. Harapan bahwa Ds. Pekalongan akan terus tumbuh dengan kekuatan gotong royong, dengan semangat persatuan, dan dengan kesadaran bahwa setiap warganya adalah bagian penting dari perubahan.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, kebersamaan seperti ini adalah kemewahan yang tak ternilai. Dan dari balai sederhana itu, kita belajar bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari tempat besar—tetapi dari hati yang saling terhubung dan niat yang sama untuk bermaslahat.
Ds. Pekalongan telah menunjukkan: ketika semua elemen bersatu, tidak ada yang mustahil untuk diwujudkan. Wallahu a’lam bis shawab.(*/Red-Mt/Day).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *