SwaraBogor.com | Bogor – Oleh: Dr. Muslich Taman, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
Menyambut momen HUT kemerdekaan Indonesia ke-81. Mencintai Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan berdiri di garis depan, mengangkat slogan, mengibarkan bendera, berteriak paling lantang, atau tampil di atas panggung menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sebab, cinta yang paling kokoh justru sering kali tumbuh dalam kesunyian. Ia hidup dalam pekerjaan yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab, dalam amanah yang dijaga tanpa tepuk tangan, dalam karya yang dipersembahkan untuk umat, dan dalam pengabdian yang tak selalu menjadi berita.
Menyambut momen HUT kemerdekaan Indonesia ke-81. Mencintai Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan berdiri di garis depan, mengangkat slogan, mengibarkan bendera, berteriak paling lantang, atau tampil di atas panggung menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sebab, cinta yang paling kokoh justru sering kali tumbuh dalam kesunyian. Ia hidup dalam pekerjaan yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab, dalam amanah yang dijaga tanpa tepuk tangan, dalam karya yang dipersembahkan untuk umat, dan dalam pengabdian yang tak selalu menjadi berita.
Pesan itu sesungguhnya bukan hanya ditujukan kepada ASN. Ia adalah panggilan moral bagi seluruh warga bangsa. Sebab, negeri ini tidak dibangun oleh segelintir orang, melainkan oleh jutaan manusia yang menjalankan amanah profesinya dengan sebaik-baiknya.
Karena itu, seorang guru mencintai Indonesia dengan mengajar sepenuh hati dan menyalakan cahaya ilmu. Seorang siswa mencintai Indonesia dengan belajar sungguh-sungguh, karena ilmu hari ini adalah masa depan bangsanya. Pedagang mencintai Indonesia dengan kejujuran dalam berniaga. Karyawan mencintai Indonesia dengan disiplin dan kerja keras. Petugas kebersihan mencintai Indonesia dengan sungguh-sungguh menghadirkan lingkungan yang bersih dan sehat. Pengendara mencintai Indonesia dengan menaati rambu-rambu lalu lintas. Petugas pelayanan mencintai Indonesia dengan melayani masyarakat secara ramah dan profesional. Pemimpin mencintai Indonesia dengan menghadirkan keteladanan, keadilan dan kesejahteraan. Seorang ayah mencintai Indonesia dengan melindungi serta mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak. Seorang anak mencintai Indonesia dengan berbakti kepada kedua orang tua dan menggapai cita-citanya.
Begitulah cinta bekerja. Ia tidak selalu terdengar, tetapi selalu menghadirkan manfaat. Ia tidak selalu tampak, tetapi selalu meninggalkan jejak.
Mahatma Gandhi pernah berpesan, “Cara terbaik menemukan dirimu adalah dengan mengabdikan dirimu untuk melayani orang lain.” Kalimat ini mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang dimilikinya, melainkan dari manfaat yang diberikannya. Pengabdian kepada sesama adalah jalan menuju kemuliaan pribadi sekaligus kemajuan bangsa.
Dalam perspektif seorang muslim, setiap pekerjaan baik yang dilakukan dengan niat ibadah bernilai amal saleh. Ketika seseorang menjalankan profesinya dengan jujur, disiplin, amanah, dan penuh tanggung jawab, sesungguhnya ia sedang menjalankan perintah Allah sebagai khalifah di muka bumi. Maka, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga merawat kehidupan, menjaga negeri, dan mengabdi kepada Sang Pencipta.
Filsuf Tiongkok Konfusius mengatakan, “Orang yang mulia merasa malu apabila kata-katanya lebih besar daripada perbuatannya.” Negeri ini tidak membutuhkan semakin banyak pidato tentang cinta tanah air, tetapi semakin banyak orang yang membuktikannya melalui kerja nyata.
Karena itu, marilah kita mencintai Indonesia dengan cara paling sederhana yang kita bisa dan sekaligus paling bermakna. Cintailah Indonesia dengan tidak menjadi koruptor. Cintailah Indonesia dengan tidak menjadi pemalas. Cintailah Indonesia dengan tidak menyia-nyiakan amanah. Cintailah Indonesia dengan tidak membuang sampah sembarangan. Cintailah Indonesia dengan tidak menyebarkan kebencian kepada sesama anak bangsa. Cintailah Indonesia dengan menghadirkan kejujuran, kepedulian, disiplin, dan kerja terbaik dalam setiap aktivitas kehidupan.
Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pernah mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi inspirasi dunia, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang dapat engkau berikan kepada negaramu.” Semangat inilah yang menjadikan sebuah bangsa bertumbuh: setiap warganya berlomba memberi, bukan sekadar menuntut.
Bangsa yang besar bukan hanya lahir dari para pahlawan di medan perang, tetapi juga dari jutaan manusia biasa yang luar biasa dalam menjalankan tugas sehari-hari. Mereka bekerja tanpa banyak bicara, mengabdi tanpa pamrih, memberi tanpa berharap dipuji.
Maka, marilah kita menjadi satu di antara berjuta cara mencintai Indonesia. Sebab, ketika kita bekerja dengan ikhlas, melayani dengan tulus, dan berbuat baik karena Allah, kita tidak hanya sedang mencintai bangsa ini. Kita sedang mencintai dunia yang dititipkan-Nya, merawat alam semesta, dan menapaki jalan menuju ridha Sang Pencipta. Sebab, mencintai Indonesia dengan bekerja secara terbaik pada hakikatnya adalah mencintai kemanusiaan, memuliakan kehidupan, dan mensyukuri nikmat Allah atas negeri yang dianugerahkan kepada kita. Wallahu a’lam bis shawab.(*/Red-Rhidayat).
