PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK

SwaraBogor.com | Bogor – Oleh: Muslich Taman, Guru PAI BP SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan

Ada anak-anak yang tumbuh dengan fasilitas serba lengkap, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: kehadiran ayahnya. Ayah ada di rumah, tetapi tidak benar-benar hadir. Ia bekerja untuk keluarga, tetapi jarang berbicara dengan anak. Ia memenuhi semua kebutuhan materi, tetapi absen ketika anak membutuhkan tempat bercerita. Dengan beragam alasan.

Di sinilah kita perlu meluruskan cara pandang. Dalam Islam, pendidikan anak bukan semata-mata urusan ibu. Ayah dan ibu sama-sama memikul amanah pendidikan, dengan peran yang berbeda namun saling melengkapi.

Al-Qur’an bahkan mengabadikan beberapa percakapan luar biasa antara ayah dan anak. Nabi Ya’qub, misalnya, menjadi tempat Yusuf kecil berbagi cerita. Suatu ketika, Yusuf menceritakan mimpinya kepada sang ayah.

“Wahai ayah, sungguh, aku melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

Perhatikan: Yusuf bercerita kepada ayahnya. Ia merasa aman, nyaman, dan begitu dekatnya.

Begitu pula Nabi Ibrahim ketika mendapat perintah Allah untuk menyembelih Ismail, sang putra. Ibrahim tidak sekadar menyampaikan keputusan. Ia mengajak anaknya berdialog:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Ismail pun menjawab dengan ketundukan yang luar biasa. Perasaan yang sepenuhnya percaya kepada sang ayah.

Kedua kisah itu sama-sama berbicara tentang mimpi. Tetapi sesungguhnya, ini bukan sekadar soal mimpi. Ini soal kedekatan. Soal komunikasi. Soal kepercayaan. Soal kelekatan jiwa antara ayah dan anak.

Anak yang merasa dekat dengan ayah akan lebih mudah menjadikan ayah sebagai tempat bertanya, mengadu, dan belajar.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka seorang ayah tidak cukup hanya menjadi pencari nafkah. Ia juga harus menjadi pendidik, teladan, pelindung, sahabat, dan pembimbing moral anak-anaknya.

Lalu, bagaimana semestinya sosok ayah hadir?

Pertama dan paling utama: ayah harus bersedia belajar. Belajar menjadi orang tua, belajar memahami dunia anak, belajar agama, belajar menjadi lebih baik, belajar berkomunikasi, bahkan belajar mengakui bahwa dirinya pun masih memiliki kekurangan.

Kedua, hadirkan waktu, bukan sekadar uang. Anak tidak selalu membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka membutuhkan ayah yang mau mendengar cerita mereka, menemani belajar, makan bersama, bercanda, menasihati dengan kasih sayang, dan hadir ketika mereka sedang jatuh.

Ketiga, jadilah teladan. Anak lebih cepat meniru daripada mendengar nasihat. Jika ayah ingin anak rajin shalat, jujur, santun, dan bertanggung jawab, maka semua itu harus terlebih dahulu terlihat dalam perilaku ayah.

Lantas bagaimana dengan ibu?

Ibu bukan “pelaksana pendidikan” sementara ayah hanya “pencari nafkah”. Keduanya adalah mitra utama dalam pendidikan keluarga. Ibu dengan kelembutan dan kedekatan emosionalnya; ayah dengan ketegasan, perlindungan, keteladanan, dan arah kepemimpinannya. Namun pembagian itu tidak kaku. Ayah pun harus lembut. Ibu pun harus tegas. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan.

Sebab rumah bukan sekolah yang memiliki guru tunggal. Rumah adalah madrasah pertama, dan ayah-ibu adalah pendidik utamanya.

Jangan sampai seorang ayah merasa tugasnya selesai ketika gaji sudah diterima dan kebutuhan rumah sudah terpenuhi. Anak membutuhkan lebih dari sekadar biaya pendidikan. Mereka membutuhkan pendidikan dari seorang ayah yang hadir.

Karena pada akhirnya, anak mungkin lupa berapa banyak uang yang pernah diberikan. Tetapi mereka akan mengingat: apakah ayah pernah mendengarkan ceritaku, memelukku ketika takut, menuntunku ketika bingung, dan berjalan bersamaku ketika aku mencari arah?

Itulah pendidikan yang sering kali tidak tertulis di buku, tetapi membekas paling dalam di hati seorang anak. Wallahu a’lam bis shawab.(*/Rhidayat).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *