Oleh : Muslich Taman, Pendidik dan Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
SwaraBogor.com | Bogor – Hari ini perjalanan mudik terasa berbeda. Ruas jalan tetap lebar. Kendaraan tetap ramai. Langit tetap cerah. Dan suasana menjelang lebaran penuh aroma kebahagiaan. Namun, di dalam hati ada ruang yang terasa kosong. Ada yang hilang dari perjalanan ini.
Iya, kali ini kami mudik tanpa anak laki-laki kami. Mahyaya Lillahi Ta’ala.
Anak laki-laki yang selama ini selalu hadir dalam setiap perjalanan mudik pulang kampung. Yang biasanya duduk di samping kami, bercanda berbagi cerita, atau sekadar berceloteh tentang hal-hal kecil yang membuat perjalanan terasa ramai dan hangat.
Tahun ini, kursi itu kosong.
Kami pulang tanpa dia.

Ada yang terasa ganjil di hati. Rasanya seperti ada potongan kecil dari kebahagiaan yang tertinggal jauh di belakang. Mudik yang biasanya terasa utuh, kini terasa sedikit kurang lengkap.
Namun, begitulah memang hidup ini. Tidak ada yang sempurna. Hidup sering kali meminta kita untuk belajar melepaskan, bahkan terhadap sesuatu yang sangat kita cintai.
Anak laki-laki kami, Mahyaya, saat ini sedang berada di tingkat akhir pendidikannya di Pondok Pesantren Rafah Bogor. Sebuah tempat yang ia pilih untuk menempuh jalan ilmu dan perjuangan. Di Pondok itu, kami menitipkan si buah hati, belahan jiwa, dan pelanjut cita-cita kami. Di Pondok itu ada aturan yang harus ditaati oleh seluruh santri tingkat akhir. Mereka tidak pulang saat lebaran tahun ini.

Mereka harus tetap tinggal di Pondok.
Tujuannya bukan tanpa makna. Mereka diminta untuk lebih fokus melakukan murojaah hafalan Al-Qur’an, memperdalam pelajaran, dan melatih diri menjadi pribadi yang lebih mandiri dan tangguh.
Di usia yang masih belia, mereka sedang belajar tentang arti kesungguhan dan tanggung jawab. Tentang arti keteguhan menggapai cita-cita. Tentang bagaimana menata hidup agar kelak mampu berdiri tegak menghadapi gemerlap dan warna-warni dunia.
Perjuangan memang selalu menuntut pengorbanan.
Kadang kita harus siap jauh dari orang-orang yang paling kita sayangi. Kadang kita harus rela menyerahkan sesuatu yang sangat kita butuhkan. Bahkan dalam beberapa keadaan, kita harus belajar mengikhlaskan sesuatu yang terasa sulit sekali untuk dilepaskan.
Di saat seperti inilah saya teringat sebuah kalimat yang sangat terkenal dari Kahlil Gibran. Ia berkata dalam karya besarnya, The Prophet:

“Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putera-puteri kehidupan yang merindukan dirinya sendiri. Mereka datang melaluimu namun bukan darimu. Dan meski mereka bersamamu, mereka bukan milikmu. Kau boleh memberi mereka cinta, tetapi bukan pikiranmu. Sebab mereka memiliki pikiran sendiri. Kau bisa memberi tempat bagi raga, tetapi tidak bagi jiwa mereka. Sebab jiwa mereka hidup di rumah esok, yang takkan mampu kau singgahi
sekalipun dalam mimpi…”
Kalimat itu terasa begitu hidup di hatiku hari ini.
Anak-anak memang lahir melalui kita, hidup bersama kita, tetapi mereka bukan milik kita. Mereka adalah titipan Tuhan. Mereka hadir untuk menjalani takdir dan perjalanan hidupnya sendiri.
Sebagai orang tua, kita hanya diberi amanah untuk menjaga, mendidik, dan mengantarkan mereka sampai pada pintu masa depan mereka.
Sesungguhnya kita semua adalah milik Tuhan.
Apa pun yang ada pada diri kita —anak, keluarga, harta, bahkan kebahagiaan— hanyalah titipan sementara. Jangan sampai sesuatu itu singgah terlalu dalam di hati kita, seolah-olah benar-benar milik kita sendiri.
Karena pada akhirnya, hidup ini adalah perjalanan mencari ridha Tuhan.

Kadang jalannya terasa ringan. Kadang pula terasa berat. Tetapi justru dalam berat itulah sering tersembunyi makna yang paling dalam. Tentang hakikat kehidupan.
Mungkin hari ini hati kami terasa sedikit sepi karena harus mudik tanpa anak laki-laki kami. Namun di balik rasa rindu itu, ada kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan.
Di sebuah sudut Pondok Pesantren yang dicintai dan dibanggakannya, anak kami sedang berjuang.
Ia sedang menjaga hafalan Al-Qur’annya. Ia sedang menata masa depannya. Ia sedang menapaki jalan panjang menuju cita-cita menjadi orang yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Dan sebagai orang tua, kami hanya bisa mengirimkan doa dari kejauhan. Sembari mengusap derai air mata. Haru dan bangga.

Semoga Ananda Mahyaya dan seluruh teman-temannya di pondok: ada Hasan Husain, Faiq, Zhafran, Hilmi, Hammas, Luthfan, Muzzi, Ibad, dll, selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan kekuatan. Semoga Allah memudahkan segala langkah dalam menuntut ilmu. Semoga kelak kalian semua menjadi manusia yang kuat, mandiri, dan membawa cahaya bagi kehidupan banyak orang.
Semoga kalian semua menjadi orang-orang yang sukses dan bahagia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Dan untuk semua orang tua yang hari ini juga merasakan rindu yang sama —rindu kepada anak-anak yang sedang berjuang di jalan ilmu—semoga Allah melapangkan hati kita semua.
Semoga pengorbanan ini menjadi amal yang indah di sisi-Nya. Investasi paling berharga. Dan semoga kita semua dipertemukan kembali dalam kebahagiaan yang lebih sempurna. Amin ya Rabbal alamin.(*/Red-Tm/Day).
