Oleh : Dr. Muslich Taman, M.Pd.I, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku Kado Keluarga Bahagia
SwaraBogor.com | Dalam perjalanan hidup manusia, ada tiga hal yang sejak dulu selalu menjadi ujian besar: harta, tahta, dan wanita. Ketiganya bukan sekadar simbol kenikmatan dunia, tetapi juga amanah yang berat. Dalam pandangan iman, harta, tahta, dan wanita sejatinya adalah anugerah Allah yang luar biasa. Penuh daya tarik dan pesona. Namun pada saat yang sama, ia bisa berubah menjadi musibah yang menghancurkan dan menghinakan, jika tidak dijaga dengan iman dan ketakwaan.
Betapa beruntungnya seorang hamba ketika Allah menganugerahkan kepadanya harta yang cukup, kedudukan yang terhormat, serta pasangan hidup yang shalihah. Harta yang diperoleh dari jalan halal dan dibelanjakan di jalan kebaikan akan menjadi cahaya, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Dari harta itulah lahir sedekah, zakat, bantuan bagi miskin papa, serta dukungan bagi perjuangan agama Allah Ta`ala. Harta semacam ini tidak mengikat hati, tetapi justru mendekatkan pemiliknya kepada Sang Pemberi. Hanya diterima di tangan, tidak singgah di dalam hati.
Demikian pula dengan tahta atau kedudukan. Jabatan adalah ladang amal yang luas. Dengan jabatan, seseorang dapat menegakkan keadilan, menebar kemaslahatan, membela yang lemah, dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Membangun fasilitas kebaikan, sarana ketaatan, termasuk membangun tempat-tempat ibadah yang megah. Pemimpin yang sadar bahwa jabatannya adalah Amanah, akan menggunakan kekuasaannya dengan sebaik-baiknya. Untuk melayani, bukan dilayani. Untuk memberi, bukan meminta. Ia takut berkhianat, karena ia tahu setiap keputusan yang diambilnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Wanita, dalam hal ini istri yang shalihah, juga merupakan anugerah yang tak ternilai. Ia menjadi penenang jiwa, penopang iman, penguat tekad, dan pengingat ketika langkah mulai menyimpang. Istri yang mengajak kepada ketaatan akan menguatkan suami dalam menghadapi godaan dunia, bukan justru menyeretnya ke jurang maksiat. Istri yang shalihah senantiasa menguatkan di jalan kebaikan. Sahabat setiap saat, di segala keadaan. Penjaga hati suami.

Namun, sejarah juga mencatatkan sisi gelap dari harta, tahta, dan wanita. Ketika ketiganya tidak lagi berada dalam kendali iman, ia berubah menjadi petaka. Harta melahirkan keserakahan, tahta menumbuhkan kesombongan, dan wanita menjadi pintu kehancuran moral. Banyak manusia yang awalnya terhormat, dipuji dan dielu-elukan, menjadi idola dan idaman, akhirnya jatuh ke dalam kehinaan yang memalukan, karena tidak mampu menjaga ketiga hal tersebut. Harta, tahta, wanita.
Tak terhitung tokoh dunia yang karier dan reputasinya runtuh karena skandal harta, penyalahgunaan kekuasaan, atau persoalan perempuan. Di Indonesia pun kita menyaksikan hal serupa. Sejumlah pejabat, tokoh publik, bahkan figur terkenal yang pernah dielu-elukan masyarakat, harus terperosok akibat ketidaksanggupan mengendalikan diri. Kontroversi yang menimpa Pak RK misalnya, andai itu benar, menjadi pelajaran di depan mata kita –warga Jawa Barat khususnya, bahwa setinggi apa pun posisi seseorang, dengan segala daya tarik dan performanya, godaan dunia tetap nyata dan bisa menjatuhkan siapa saja, jika ‘kewaspadaan iman’ lengah.
Karena itu, sikap yang paling bijak adalah waspada. Pasrah pada pengawasan-Nya. Jangan serakah, jangan silau, dan jangan buta hati terhadap harta, tahta, dan wanita. Nikmati anugerah Allah dengan rasa syukur dan menjaga integritas. Jadikan semuanya sebagai sarana mendekat kepada Allah, bukan alat untuk memuaskan nafsu angkara.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjaga amanah. Jika harta, tahta, dan wanita datang menghampiri hidup kita, semoga ia menjadi anugerah yang mengangkat derajat dan memuliakan diri, bukan musibah yang menjatuhkan kehormatan dan menghinakan martabat. Amin.(*/Red-Mt/RHT).
