Oleh : Dr. Muslich Taman, M.Pd.I, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku Pendidikan Karakter Pemuda
SwaraBogor.com | Bogor – Perang adalah wajah paling gelap dari sejarah manusia. Ia bukan sekadar dentuman senjata dan runtuhnya bangunan, tercecernya darah dan tulang belulang manusia tak berdosa, melainkan runtuhnya nurani dan porak porandanya iman. Di dalam perang, yang paling dahulu terbunuh bukanlah tubuh manusia, melainkan nilai. Nilai agama yang mengajarkan kasih sayang, nilai kemanusiaan yang memuliakan kehidupan, nilai sosial yang menumbuhkan kebersamaan, serta nilai budaya yang merawat peradaban —semuanya luluh lantak di bawah deru ambisi dan keserakahan.
Iman sejatinya berdiri tegak untuk menjaga kehidupan, mewujudkan keamanan, dan menciptakan kedamaian. Setiap agama mengajarkan penghormatan terhadap jiwa manusia. Membunuh satu jiwa tanpa hak digambarkan sebagai kejahatan terhadap seluruh umat manusia. Maka ketika perang dijadikan pilihan pertama, bukan pilihan terakhir, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan adalah kegagalan iman mengendalikan nafsu kuasa.
Sang Rasul bersabda, “Demi Allah seseorang tidaklah beriman, demi Allah seseorang tidaklah beriman, demi Allah seseorang tidaklah beriman.” Sahabat ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulul?” Rasul menjawab, “Yaitu seseorang yang orang lain di sekitarnya merasa tidak aman dari kejahatan dirinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Perang sering kali dibungkus dengan dalih: keamanan, pertahanan diri, stabilitas kawasan, bahkan atas nama Tuhan. Namun di balik semua itu, tak jarang tersembunyi kepentingan politik, ekonomi, dan hasrat dominasi.
Sejarah dunia membuktikan bahwa perang benar-benar tidak ada yang menyelesaikan masalah. Ia hanya memindahkan luka dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak tumbuh tanpa orang tua, kota-kota menjadi puing, dan kebencian diwariskan seperti pusaka kelam. Dalam situasi seperti itu, iman diuji: apakah ia akan menjadi cahaya yang meredam api, atau justru dijadikan bahan bakar untuk memperbesar kobaran. Perang, sejatinya hanya untuk mempertahankan diri. Bukan memaksakan ambisi.
Dalam percaturan politik global hari ini, ketegangan dan konflik kembali dipertontonkan dengan terang-terangan. Presiden Trump sejak periode pertamanya memimpin Amerika Serikat telah memperlihatkan karakter kepemimpinan yang bringas, angkuh, kasar, konfrontatif, dan sarat kontroversi. Dalam dinamika Timur Tengah, ia tampak begitu selaras dengan garis kebijakan Netanyahu. Ketika dua kekuatan besar saling menguatkan dalam pendekatan yang agresif, dunia menyaksikan bagaimana keputusan politik dapat berdampak luas terhadap jutaan manusia tak bersalah.
Lebih memprihatinkan lagi ketika dalih-dalih terhadap Iran, atau negara manapun yang tak sejalan dengan kepentingannya dipaksakan atas sesuatu yang sesungguhnya masih menjadi perdebatan dan tak terbukti. Tuduhan dan tekanan yang terus-menerus, tanpa ruang dialog yang adil, hanya mempersempit peluang perdamaian. Dalam situasi seperti ini, yang tampak bukanlah kebijaksanaan yang disegani, melainkan sikap yang sangat jauh dari semangat keadilan global. Sangat memuakkan.
Imanlah yang mampu melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan dan angkara murka. Ia menuntun manusia untuk menahan diri, bukan menekan yang lemah dan menghancurkannya. Namun ketika kekuasaan merasa tak tersentuh, sering kali muncul ilusi bahwa segala tindakan dapat dibenarkan demi kepentingan sendiri. Padahal sejarah telah menjadi saksi: tidak ada kekuatan yang bertahan selamanya dengan bertumpu pada kezaliman. Setiap keangkuhan pada akhirnya menemukan titik runtuhnya.
Dalam keyakinan banyak orang, termasuk saya, kebijakan yang rajin menindas dan mengabaikan prinsip keadilan, sejatinya adalah langkah menggali lubang kubur bagi diri sendiri. Tidak ada negara yang kebal terhadap hukum sejarah. Ketika prinsip keadilan dan perdamaian dikhianati, legitimasi moral perlahan tergerus. Dan ketika legitimasi moral hilang, kekuatan sebesar apa pun akan kehilangan pijakan.
Perang bukanlah tanda keperkasaan, atau adidaya, melainkan bukti nyata kegagalan. Ia bertentangan dengan seluruh nilai yang seharusnya dijunjung tinggi dan dimuliakan manusia. Iman yang sejati berdiri di sisi kehidupan, keadilan, dan perdamaian. Jika iman benar-benar hidup di dada para pemimpin, maka yang diutamakan adalah dialog, bukan dentuman; rekonsiliasi, bukan pembalasan; dan kemanusiaan, bukan kepentingan sempit.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak perang. Dunia membutuhkan lebih banyak keberanian untuk berdamai. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang oleh sejarah bukanlah siapa yang paling keras menekan, atau paling banyak melenyapkan lawan, tetapi siapa yang paling tulus menjaga kehidupan dan menciptakan perdamaian. Wallahu a`lam.(*/Red-TM).
