Oleh : Muslich Taman, Orangtua Mahyaya, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
SwaraBogor.com | Bogor – Di balik sosoknya yang pendiam, Mahyaya, seorang santri kelas 5B (kelas XI SMA) dari Pondok Pesantren Rafah Bogor, berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan hati keluarganya. Tepat di usianya yang ke-16 tahun, remaja belia ini berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Sebuah perjuangan tak kenal lelah dan capaian yang layak disyukuri. Prestasi yang menjadi hadiah istimewa, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, dan umat isnya Allah.
Kabar keberhasilannya tersebut disampaikan oleh pihak Pondok kepada orangtuanya. Kabar yang membawa haru mendalam bagi kedua orangtua, termasuk sang kakek tercintanya. Setelah mendengar cerita tentang apa yang diraih oleh Mahya, Sang Kakek pun terdiam, terharu akan pencapaian sang cucu. Air mata Sang kakek yang telah berusia lebih dari 75 tahun pun menetes, tak kuasa menahan tangis atas kebahagiaan dan rasa syukur yang tak mampu dibendung.

Sebagai bentuk rasa syukur dan kebanggaannya, Sang Kakek menghadiahi Mahyaya dengan ibadah umroh ke Tanah Suci dan wisata religi ke Mesir. Tepatnya, pada Kamis 25 Desember 2025 Mahyaya berangkat ibadah umroh didampingi oleh kakek, nenek, dan umi tercintanya. Sang kakek berharap, ibadah umroh yang dihadiahkan kepada Mahya, membuatnya makin semangat belajar agama dan makin teguh menjaga hafalan Al-Qurannya.
Meski dikenal pendiam, sosok Mahyaya tetap aktif dalam berbagai kegiatan santri. Ia menjadi pengurus santri di pondoknya, dan aktif di berbagai ekstrakurikuler seperti marawis, pramuka, dan bulu tangkis. Bahkan, dalam peringatan 1 abad Pondok Modern Gontor beberapa waktu lalu, Mahyaya ditunjuk sebagai delegasi santri dari

pondoknya untuk mengikuti lomba bulu tangkis di Gontor.
Kisah Mahyaya ini, sejujurnya kutulis dengan sedikit keraguan hati. Maju dan mundur berkali-kali, hingga akhirnya kuputuskan untuk menulisnya. Bukan dimaksudkan untuk pamer (riya’), tetapi semata-mata dengan niat berbagi motivasi dan saling menguatkan. Memotivasi anak-anak remaja seusianya yang sedang berjuang seperti Mahya, agar semakin semangat belajar, jangan pernah menyerah, dan terus meneguhkan tekad. Yakinlah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.
Juga bagi para orangtua yang sedang memondokkan anaknya, agar lebih kuat dan teguh lagi tekadnya. Bantulah anak dengan segala hal baik yang bisa dilakukan, meskipun sederhana. Banyaklah berdoa dan memberi keteladanan. Keberhasilan anak tidak lepas dari peran keramat orangtuanya. Yang ikhlas, sabar, dan istiqamah mendidik, membimbing, dan mendoakan mereka dengan yang terbaik.

Mahyaya hanyalah satu dari ribuan santri yang berjuang dalam senyap di sudut masjid pondok atau ruang belajar, membaca lembar demi lembar mushaf Al-Quran, berkali-kali mengulang bacaannya, dan berusaha sekuat daya menghapalnya. Berharap Al-Qur’an menjadi cahaya penerang hatinya dan hati umat, di dunia hingga akhirat nanti. Amin.(MT/Rhidayat)
