Oleh : Muslich Taman, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
SwaraBogor.com | Bogor – Di sebuah pelosok Desa Sukasari yang sederhana, ada kampung dengan nama yang kontras dengan suasananya. Kampung Lame, kata orang seharusnya ramai, namun nyatanya sunyi, dihiasi kebun kelapa yang subur dan warga yang ramah.
Di tempat yang tenang inilah Marwati —akrab disapa Mawar— lahir, tumbuh, dan belajar memaknai kehidupan. Penuh lika-liku dan suka cita.
Mawar adalah seorang remaja 16 tahun yang hidup bersama orangtua dan dua saudara laki-lakinya. Mawar bagai bidadari yang dijaga dua sayap yang kokoh: kakak dan adik laki-lakinya. Kehangatan keluarga menjadi fondasi penting yang menumbuhkan kepercayaan diri dan ketangguhan dalam dirinya.

Sejak dini, Mawar memiliki mimpi besar: ingin menjadi seorang MC profesional hingga kelas internasional. Baginya, menjadi pembawa acara bukan sekadar berbicara di depan publik, melainkan sebuah bentuk pelayanan —menjadi perantara pesan, energi, dan harapan. Ia ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang melalui profesi yang dijalaninya kelak. Tampil di depan untuk melayani dan membahagiakan banyak orang.
Perjalanan menuju mimpi itu tentu tidak mudah. Namun Mawar memilih cara pandang yang berbeda. Setiap kesulitan yang menghadang, ia anggap sebagai jalan bertumbuh, bukan penghalang. Ia merasa beruntung dikaruniai orang tua yang selalu mendukung, guru-guru yang hebat, serta lingkungan yang penuh inspirasi. Di usia yang masih belia, Mawar justru meyakini bahwa tidak ada ujian hidup yang benar-benar berat. Semua terasa indah, karena setiap kepahitan adalah proses menempa diri. Seperti pisau tumpul yang harus diasah agar tajam, demikian pula manusia harus ditempa agar kuat.
Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat duduk di bangku kelas 2 SD. Ketika teman-temannya sudah mampu berhitung, Mawar belum bisa. Ia kerap meminta bantuan teman, bahkan pernah menangis karena tak ada yang mau membantu.

Dari titik rapuh itulah Mawar belajar tentang pentingnya mental tangguh, pantang menyerah, terus mencoba, dan betapa berharganya motivasi orang tua —terutama sosok ibu— yang terus menguatkannya.
Kerja keras itu berbuah manis. Secara akademik, Mawar menunjukkan grafik prestasi yang terus menanjak: juara ke-5 kelas 4 SD, juara ke-4 kelas 5 SD, juara ke-3 kelas 6 SD, juara ke-3 kelas 7 dan 8 SMP, juara ke-2 kelas 9 SMP, serta juara ke-3 sejak kelas 10 hingga kelas 12 di SMAN I Rumpin saat ini.
Di luar kelas, Mawar juga menorehkan banyak prestasi: juara lomba ceramah dan murottal, juara olahraga pencak silat, Juara 1 Kategori Tanding Kejuaraan Pencak Silat antar pelajar se-Jabodetabek S-KI CUP II 2023, Juara 2 Kejuaraan Nasional Pencak Silat Kapolri CUP I 2023, hingga menjadi Duta Green Ambassador (Green Youth Movement Angkatan II) yang disahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada 2024. Pada 2025, ia juga dipercaya sebagai Pembawa Baki Paskibra tingkat Kecamatan Rumpin. Yang sangat berkesan.

Kini Mawar, yang telah duduk di kelas XII ini menanti untuk bisa lolos diterima di kampus impiannya, UNPAD Bandung melalui jalur prestasi atau SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi). Dia berharap, semoga dengan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kelak bisa membahagiakan kedua orangtuanya dan mampu mengangkat martabat keluarganya. Mawar sadar, bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah pemutus rantai kemiskinan dan ketertinggalan.
Mamar adalah potret remaja Indonesia yang bersahaja namun berdaya. Dari kampung yang sunyi, ia menyalakan mimpi yang lantang. Mawar mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk terus tumbuh. Bagi para pelajar dan remaja Indonesia, kisahnya adalah pengingat bahwa ketangguhan lahir dari keberanian untuk terus melangkah, apa pun titik awalnya.(*/Red-MT/Day).
