PETAKA PLN DI RUMPIN, Padam Saat Tes Kompetensi Akademik Sedang Berlangsung

Swarabogor.com | Rumpin – Ironi besar terjadi di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada hari pertama pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA), Senin, 3 November 2025, listrik padam di sejumlah titik wilayah, termasuk di beberapa sekolah yang sedang menyelenggarakan ujian penting tersebut. Padahal pihak sekolah ketika dikonfirmasi, jauh hari sebelumnya telah secara resmi berkoordinasi dan berkirim surat kepada PLN Rumpin, UPJ Jasinga, agar tidak ada jadwal pemadaman selama pelaksanaan TKA yang berlangsung dari tanggal 3 hingga 6 November 2025.

Namun, apa yang terjadi? Justru sebaliknya. Lampu padam beberapa kali di tengah pelaksanaan ujian yang membutuhkan konsentrasi tinggi dari para murid. Sungguh menyedihkan dan memalukan. Peristiwa ini tidak hanya menggambarkan lemahnya koordinasi di internal PLN, tetapi juga menunjukkan buruknya kinerja PLN di wilayah Rumpin yang tampak tidak profesional dan terkesan abai terhadap kepentingan publik, terutama terhadap agenda penting pemerintah pusat.

PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejatinya memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung kelancaran kegiatan masyarakat, apalagi yang bersifat strategis seperti Tes Kompetensi Akademik, program perdana Pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru. Tes ini merupakan program resmi pemerintah pusat yang menjadi bagian dari evaluasi nasional terhadap mutu pendidikan dan kompetensi diri peserta didik. Oleh sebab itu, dukungan semua pihak mutlak diperlukan, terutama dari lembaga penyedia layanan vital seperti PLN.

Namun fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Pemadaman yang terjadi pada hari pertama pelaksanaan TKA membuat suasana ujian di berbagai sekolah di Kecamatan Rumpin menjadi buyar dan kacau. Beberapa ruang ujian mendadak gelap, peralatan komputer mati, dan jaringan terganggu. Para siswa yang semula fokus mengerjakan soal, mendadak panik dan kehilangan konsentrasi.

Wildan Adzikri Maulana salah seorang murid peserta TKA dan sekaligus Ketua OSIS di SMAN I Rumpin, ketika ditanya tentang perasaannya, dia mengatakan, “Saya sudah belajar keras untuk hari ini, tetapi tiba-tiba listrik mati. Semua usaha terasa sia-sia,” ungkapnya dengan nada kecewa. Ada pula yang mengaku menjadi malas untuk mengikuti ujian ulang susulan karena merasa kesal dan stres akibat situasi tersebut. Jangan-jangan besok juga terulang lagi, cetusnya sambal mengerutkan dahi.

Dampak dari kelalaian PLN tidak bisa dianggap remeh. Tes Kompetensi Akademik bukanlah kegiatan rutin biasa, tetapi bagian dari agenda nasional yang menentukan arah pendidikan siswa di masa depan. Ketika ujian terganggu, maka bukan hanya waktu dan tenaga yang terbuang, tetapi juga mental dan semangat para peserta didik yang buyar dan terteror.

Hendri Purnomo, MM selaku Waka Kesiswaan, ketika melihat para siswanya tampak panik dan kecewa, mengatakan, “Pemadaman di tengah pelaksanaan TKA jelas-jelas telah mencederai semangat dan integritas pendidikan. Seharusnya PLN sebagai institusi besar yang memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat, mampu menunjukkan empati dan tanggung jawab sosialnya, bukan justru menambah beban dan kekacauan di lapangan seperti ini,” tegas Hendri yang diaminkan Muslim Arif Nurdin, M.Pd., selaku Waka Kurikulum, yang keduanya tampak sama-sama turut panik dan kecewa.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak bahwa koordinasi antarinstansi pemerintah harus diperkuat. Semua harus duduk bersama sebelum agenda nasional sebesar TKA dilaksanakan. Tanpa komunikasi formal melalui surat dari pihak sekolah, seharusnya cukup untuk menjadi perhatian PLN agar menjadwalkan pemeliharaan jaringan di luar waktu krusial seperti ini.

Dukungan antarinstansi merupakan bentuk nyata dari sinergi dalam mendukung program pemerintah pusat. PLN sebagai BUMN tidak boleh bekerja secara sektoral dan terpisah dari kepentingan publik yang lebih luas. Jika agenda strategis seperti TKA saja tidak mendapat perhatian, bagaimana masyarakat bisa percaya pada komitmen PLN dalam memberikan pelayanan terbaik?

Kekecewaan publik terhadap PLN Rumpin kini sudah meluas. Masyarakat, para guru, dan siswa peserta TKA di semua sekolah, berharap agar pada hari kedua hingga terakhir pelaksanaan TKA, tidak lagi terjadi pemadaman listrik. PLN harus segera memperbaiki kinerjanya, meningkatkan kepekaan sosial, dan benar-benar hadir sebagai mitra masyarakat yang baik, bukan sekadar perusahaan penyedia listrik yang bekerja tanpa nurani.

Peristiwa hari ini menjadi tamparan keras bagi PLN. Ketika jutaan siswa di seluruh Indonesia sedang berjuang membuktikan kompetensinya, justru di Rumpin mereka harus menghadapi “ujian tambahan” yang tidak seharusnya ada — ujian karena padamnya listrik. Semoga esok hari tidak ada lagi cerita serupa. Sebab, masa depan para siswa sebagai anak bangsa terlalu berharga untuk digelapkan oleh kelalaian dan abainya pelayanan publik.(Dayat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *