Oleh : Muslich Taman, Guru dan Penulis Buku: Kado Keluarga Bahagia
SwaraBogor.com | Bogor – Ketahanan keluarga adalah fondasi utama bagi tegaknya ketahanan umat dan bangsa. Tidak ada bangsa yang hebat tanpa keluarga yang kuat. Sebaliknya, keluarga yang rapuh akan melahirkan generasi yang lemah, dan pada akhirnya melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Karena itu, setiap orangtua perlu menyadari bahwa membangun ketahanan keluarga bukan sekadar tanggung jawab pribadi, tetapi juga kontribusi nyata bagi masa depan umat dan negara.
Ketahanan keluarga tidak hanya diukur dari kecukupan materi, atau kemapanan profesi, tidak pula dari performa harmoni suami istri. Tetapi, lebih pada kekokohan nilai, kehangatan hubungan, serta kekuatan spiritual yang hidup di dalam rumah, yang dipegang kuat oleh anggota keluarga. Di sinilah peran ayah dan ibu menjadi sangat menentukan, sebagai nahkoda.
Ayah memiliki posisi sentral sebagai pemimpin keluarga. Ia bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga penuntun arah kehidupan rumah tangga. Ayah dituntut menjadi sosok pembelajar sejati—senantiasa belajar, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah dirinya. Kepemimpinan dalam keluarga tidak cukup dengan perintah dan kata-kata. Apalagi hanya jari telunjuk dan pelototan mata.
Anak-anak sangat membutuhkan keteladanan. Ketika ayah menjaga shalatnya, lisannya, akhlaknya, dan tanggung jawabnya, di situlah pendidikan karakter berlangsung secara mendalam dan bermakna (deep learning yang meaning full). Kepemimpinan yang dilandasi ilmu dan dicontohkan dalam perbuatan, akan membentuk suasana rumah yang kokoh dan penuh wibawa di mata anak-anak.
Sementara itu, ibu adalah pendidik sekaligus penguat suasana religius di rumah. Dengan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayangnya, ibu mendampingi suami agar memastikan anak-anak menjalankan praktik ibadah sehari-hari. Membiasakan anak bangun tidur tepat waktu, berdoa sebelum dan sesudah tidur, menjaga adab dan sopan santun, mendampingi belajar, dll. Peran ini menuntut bekal ilmu dan ketelatenan tingkat tinggi. Peran yang mulia dan kadang melelahkan, selain mengandung dan melahirkan. Karenanya, jadikanlah lelah yang ada menjadi lillah (mencari ridha Allah), dengan menjalaninya penuh ketulusan.
Pendidikan terbaik lahir dari sosok guru terbaik. Guru terbaik bagi setiap anak adalah kedua orangtuanya, sebelum akhirnya anak-anak mengenal para guru di luar rumahnya. Dari kedua orangtuanyalah anak-anak akan tahu dan meniru perilaku keduanya, bagaimana cara menjalani kehidupan.
Pendidikan terbaik juga butuh pembiasaan. Tidak tiba-tiba lahir lahir dari kemarahan dan bentakan. Terbentuk dari kesabaran yang konsisten membiasakan anak-anak menjalani prinsip dan nilai yang telah ditanamkan.
Lebih dari itu, doa orangtua, khususnya ibu memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Doa yang paling mustajab bagi seorang anak. Karena itu, hendaknya setiap orangtua memanfaatkan kedudukan yang istimewa itu untuk banyak-banyak mendoakan anak-anaknya. Jangan sekali-kali orangtua mudah mengolok-olok, memaki, merendahkan, atau menghina anaknya sendiri. Ucapan orangtua adalah keramat. Jika yang keluar adalah olokan, makian, celaan, dan ucapan negative lainnya, justru akan menjadi keburukan yang kembali kepada anak, dan kelak ujung-ujungnya menimpa orangtuanya sendiri. Na`udzu billah. Sebaliknya, doa kebaikan dari orangtua yang tulus akan menjadi cahaya yang menerangi masa depan mereka. Cepat atau lambat.
Dalam konteks membangun ketahanan keluarga di bulan Ramadhan, kerja sama menjadi kunci. Suami istri perlu saling menguatkan, banyak berdiskusi dan merefleksi diri bersama, berbagi peran, dan menyatukan visi dalam mendidik anak. Tidak cukup menyerahkan pendidikan agama kepada sekolah, masjid, pondok pesantren, ustadz, atau orang lain. Orangtua harus hadir langsung, terlibat seutuhnya, membimbing, dan mengawasi semaksimal yang dia mampu.
Kolaborasi perlu dilakukan dengan tokoh masyarakat, pengurus masjid, organisasi keagamaan, dan lingkungan sekitar. Karena dunia anak-anak dan remaja adalah tanggung jawab bersama. Orangtua tidak boleh melepas anak begitu saja kepada pihak lain. Termasuk, melepas anak ke masjid tanpa pendampingan dan pembekalan adab. Jika anak belum memahami sopan santun di rumah ibadah, ia justru dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan jamaah lain. Datang ke masjid bukan untuk beribadah, tetapi untuk mencari teman bermain. Alih-alih menjadi ladang pahala bagi orangtuanya, kelalaian orangtua bisa berubah menjadi dosa.
Karena itu, sebagai orangtua mari kita ajarkan dan teladankan nilai-nilai kemuliaan bagi anak-anak kita di bulan suci Ramadhan ini. Kita jaga keluarga kita. Kita jalani rangkaian ibadah puasa bersama keluarga dengan sebaik-baiknya. Kita ajak sahur dan berbuka puasa bersama, shalat berjamaah di masjid, tadarus Al-Qur`an, memperbanyak shadaqah, bertetangga yang baik, memakmurkan masjid, dan ibadah-ibadah lainnya. Ritual maupun sosial.
Ketahanan keluarga lahir dari kesadaran, ilmu, keteladanan, doa, dan kolaborasi. Jika ayah dan ibu bersungguh-sungguh membangun rumah yang kokoh secara spiritual dan moral, maka sungguh keduanya sedang menanam benih unggul bagi tegaknya umat dan bangsa. Keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang tangguh. Dan dari generasi yang tangguh itulah, bangsa yang kuat dan hebat akan berdiri kokoh. Wallahu a`lam bis shawab.(*/Red-Mt-Yat).
