SwaraBogor.com | Surabaya – Udara Surabaya di pertengahan Oktober 2026 terasa hangat, membawa serta gema sejarah dari lorong-lorong masa lampau. Tepat di kota tempat H.O.S.
Tjokroaminoto pertama kalinya meniupkan api kesadaran berdagang bagi kaum pribumi pada 1913 silam, ribuan denyut nadi perjuangan kembali berdenyar.
Di sinilah Majelis Tahkim atau Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam (SI) resmi dibuka, mengusung tema besar yang sarat makna: “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati”.
Bagi SI, usia 121 tahun bukanlah sekadar angka penanda umur organisasi. Ini adalah sebuah testament panjang tentang keteguhan, perlawanan terhadap ketimpangan, dan ikhtiar abadi untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman kemiskinan.
Dalam pidatonya yang membakar semangat para kader, pimpinan senior Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, mengingatkan kembali esensi kehadiran organisasi ini sejak era kolonial hingga hari ini
“Hari ini insyaa Allah kita memenuhi amanat konstitusi Majelis Tahkim, kongres bertema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati,” tutur Hamdan Zoelva di hadapan belasan ribu kader dan simpatisan yang memadati arena kongres.
Hamdan menyoroti bagaimana sejarah pergerakan bangsa kerap kali melupakan akar rumput yang sesungguhnya. Syarikat Islam lahir sebagai simbol perlawanan kaum pribumi terhadap ketidakadilan ekonomi yang berpihak pada kepentingan asing.
Hari ini, musuh utama umat bukanlah lagi penjajah bersenjata, melainkan jerat kemiskinan dan ketimpangan struktural.
“Masalah ekonomi dan kemiskinan. Kita hendak bangkit dan melawan. Gerakan perbaikan umat, lewat ekonomi,” tegas Hamdan dengan nada berapi-api.
Senada dengan Hamdan, Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, yang hadir dalam perhelatan tersebut, melontarkan kritik reflektif sekaligus historis yang mencuri perhatian publik.
“Kalau boleh jujur, gerakan kebangkitan nasional pertama adalah Sarekat Islam, tapi yang kita peringati Boedi Oetomo. Persatuan nasional, Sumpah Pemuda, padahal Sarekat Islam yang pertama,” ungkap Zulkifli Hasan blak-blakan.
Zulkifli menyoroti ironi struktural yang masih dirasakan oleh rakyat kecil hingga detik ini, khususnya para petani dan peternak lokal. Keberpihakan negara, menurutnya, harus benar-benar diletakkan di atas pundak mereka yang selama ini terpinggirkan oleh arus pasar global yang tidak adil.
“Petani kita miskin, petani luar kita untungkan. Dan itulah yang terjadi berpuluh tahun. Kita perlu berpihak pada petani dan peternak Indonesia,” serunya.
Dari Koperasi Desa hingga semangat Pasal 33 UUD 1945
Menko Pangan juga mengapresiasi langkah konkrit yang diinisiasi oleh SI melalui penguatan ekonomi kerakyatan, salah satunya lewat pengembangan Koperasi Desa.
Program ini dinilai sejalan dengan visi besar pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan dan ekonomi dari tingkat paling bawah.
“Koperasi Desa merupakan salah satu perwujudan cita-clair koperasi Syarikat Islam. Meski banyak perlawanan, Pak Prabowo bilang jalan terus. Untuk mewujudkan cita-cita Syarikat Islam sebagaimana disebut Bung Hamdan Zoelva,” ujar Zulkifli Hasan menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap sinergi kerakyatan ini.
Penyelenggaraan Majelis Tahkim ke-42 yang dipusatkan di Asrama Haji Sukolilo dan Jatim Expo (17-20 Oktober 2026) ini dirancang dalam rangkaian kongres ini juga semakin meriah dengan digelarnya Festival Koperasi in Conjunction with SI Connect Expo 2026, yang mempertemukan pelaku usaha kecil, koperasi, dan komunitas dalam sebuah ekosistem kolaborasi ekonomi yang inklusif.
Dari Surabaya tahun 1913 di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, hingga Surabaya tahun 2026, api perjuangan itu tidak pernah padam. Ia hanya disulut kembali agar lebih terang. Kemerdekaan sejati, sebagaimana ditekankan dalam kongres ini, bukan sekadar kebebasan politik, melainkan kedaulatan ekonomi di atas kaki sendiri.
Syarikat Islam sekali lagi membuktikan bahwa napas perjuangan abad kedua ini tidak berhenti pada romantisme masa lalu, melainkan sebuah komitmen hidup, mewarisi apinya, memperbarui jalan perjuangannya.(*/Red).
