Dana Pokir Dialihkan, Festival Film Bogor Tempuh Jalur Mandiri dan Galang Kemitraan

SwaraBogor.com | Bogor – Momentum penataan Kabupaten Bogor menuju “Kota Film” menghadapi tantangan fiskal. Panitia Pelaksana Festival Film Kabupaten Bogor kini resmi mengambil langkah taktis dengan menggalang pendanaan secara mandiri serta menghimpun dukungan publik, pasca-pengalihan mendadak dana Pokok Pikiran (Pokir) oleh Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Egi Gunadi Wibawa, ke program kerja lain.

​Kebijakan refokusing anggaran yang dilakukan secara tiba-tiba di tengah matangnya tahapan persiapan ini diakui memicu eskalasi kerja panitia. Kendati demikian, penyelenggara tetap mengedepankan komunikasi politik yang sejuk dan menghormati penuh diskresi tersebut.

​”Kebijakan tersebut merupakan hak prerogatif Kang Egi Gunadi Wibawa selaku anggota legislatif yang memiliki otoritas atas alokasi dana aspirasi (pokir). Kami menghormati keputusan penyerapan anggaran tersebut,” ujar Ketua Panitia Festival Film Kabupaten Bogor dalam keterangan resminya, Minggu (31/5/2026).

​Guna memitigasi risiko operasional akibat dinamika anggaran ini, manajemen festival bergerak cepat membuka ruang kolaborasi, skema kemitraan strategis, serta penjajakan sponsor (corporate sponsorship) dengan pihak swasta maupun stakeholders.Langkah akselerasi ini diambil guna memastikan seluruh linimasa festival tetap berjalan sesuai rencana universal yang telah ditetapkan.

​Keterbatasan stimulus finansial daerah dipastikan tidak menyurutkan komitmen dan visi makro panitia untuk mengokohkan ekosistem industri kreatif lokal, sekaligus mencetak sineas berkualitas yang mampu bersaing di kancah nasional.

​Anomali anggaran ini justru memicu gelombang solidaritas yang masif dari para pelaku industri kreatif akar rumput. Hingga siaran pers ini diterbitkan, perwakilan dari 28 kecamatan di Kabupaten Bogor telah resmi meregistrasikan karyanya. Saat ini, para peserta dari puluhan kecamatan tersebut tengah memasuki fase produksi (syuting) secara swadaya dengan mengoptimalkan kolektifitas sumber daya lokal.

​”Fenomena ini menjadi indikator otentik bahwa sineas Kabupaten Bogor memiliki resiliensi yang tinggi dan mampu mandiri. Semangat kolektif ini modal berharga untuk mengaktualisasikan visi besar daerah di masa depan,” tambah Ketua Panitia.

​Mengingat urgensi dan skala penyelenggaraan yang berdampak luas pada sektor ekonomi kreatif, panitia secara terbuka mengundang seluruh elemen masyarakat, korporasi, dan komunitas di Kabupaten Bogor untuk terlibat aktif dalam kerja sama taktis, baik melalui program sponsorship, kemitraan mutual, maupun dukungan moril.

​”Dalam setiap upaya pembangunan ekosistem kreatif, tantangan struktural adalah hal yang niscaya. Namun, kami memilih untuk terus mengeskalasi gerakan ini. Kami mengetuk kepedulian seluruh komponen masyarakat Kabupaten Bogor untuk bergotong-royong mendukung keberlanjutan festival ini. Ini adalah ikhtiar kolektif demi membawa Kabupaten Bogor maju dan berkembang di sektor sinematografi,” pungkasnya.

​Rangkaian keterangannya diakhiri dengan optimisme kebudayaan melalui semboyan daerah: “Bogor Istimewa. Kuta Udaya Wangsa.”[*/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *