MENGENAL SOSOK PELAYAN KUBURAN YANG DERMAWAN

Oleh : Dr. Muslich Taman, Pendidik dan Penulis Buku Kado Keluarga Bahagia

SwaraBogor | Bogor – Namanya H.Mardaih. Saya mengenal sosoknya bukan sehari dua hari. Kurang lebih sejak 15 tahun yang lalu saya bersahabat dengannya. Kami sering ngobrol berdua, berdiskusi, berjalan bersama dalam suka duka menikmati takdir kehidupan sebagai pengurus yayasan sebuah Masjid. Dari kedekatan itulah, saya menyaksikan sendiri bagaimana sosok H. Mardaih menjadi pribadi yang tidak hanya sukses secara materi, tetapi juga mulia dalam akhlak dan pengabdian untuk umat.

Sejak saya mengenal, beliau adalah sosok pekerja keras yang pantang dengan malas dan berpangku tangan. Waktu, menjadi sesuatu yang sangat berharga baginya. Tidak ada hari tanpa usaha, tidak ada kesempatan tanpa dimanfaatkan dengan maksimal. Senang ‘turun tangan’ langsung dalam mengerjakan sesuatu, meski punya pekerja atau karyawan yang membantunya. Beliau bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain, menunggu keberuntungan datang, melainkan sosok yang menjemput takdirnya dengan semangat kerja keras, ketekunan, dan rajin beribadah. Hal tersebut juga dibenarkan oleh teman-teman yang mengenalnya, sesama guru, termasuk Pak Sodiq, selaku tim relawan ambulan yang suka bekerja sama dengan beliau.

Dari kerja keras itulah, Allah bukakan pintu rezeki yang luas. Kini, beliau dikenal sebagai juragan kontrakan dengan kepemilikan asset yang luar biasa. Di Jakarta dan Bogor. Sebuah capaian yang tentu tidak diraih dalam sekejab, melainkan hasil dari perjuangan panjang, keringat, dan kesabaran yang mendalam.

Ayah dari tiga anak ini, yaitu Rifqah Aida Nazla, Umul Khoiriyah, dan Fahmi Jayyid Abdillah, merasa sangat beruntung punya istri yang selalu mendukung perjuangannya. Senantiasa mendampingi dan menguatkannya dalam menjalani suka duka kehidupan, tegas Pak Haji. Sang istri, Siti Solichah Umul Barokati, tiada lain adalah teman kuliah dan sekaligus teman saat menjadi guru di sebuah sekolah elit di Bogor.

Dari cerita Pak H. Mardaih di atas, tak salah kalau ada orang yang mengatakan, “Di belakang setiap lelaki hebat, selalu ada wanita yang hebat. Wanita hebat itu, bisa istri atau ibu. Atau, kedua-duanya.

Namun, yang membuat saya semakin kagum adalah, kesuksesannya itu tidak mengubah gaya hidupnya bersama keluarga. H. Mardaih dan keluarganya tetaplah cermin keluarga yang sangat sederhana. Biasa saja dalam penampilan, dan tidak silau dengan kemewahan. 

Kesederhanaan justru menjadi ciri khas yang melekat kuat dalam diri keluarganya. Seakan Pak Haji dan keluarga ingin mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana ia menjalani hidup dan mengabdi di jalan kebaikan.

Lebih dari itu, beliau adalah sosok yang sangat dermawan. Sedekah seakan menjadi bagian dari napas kehidupannya bersama keluarga. Tanpa banyak bicara, beliau terus memberi dan berbagi, membantu sesama. Belum lama ini, beliau jual salah satu rumahnya, guna membantu pembebasan lahan untuk jalan menuju tanah wakaf pemakaman warga perumahan. Kemudian jual satu rumah lagi untuk membantu pembangunan salah satu pondok pesantren. Dan yang terbaru, beliau berwakaf tanah seluas 401 meter beserta bangunan di atasnya senilai kurang lebih 1,1 miliar rupiah kepada Yayasan Masjid As-Surur Candraloka Bogor, dengan tujuan untuk kemaslahatan umat Islam.

Tanah dan bangunan terakhir yang beliau wakafkan tersebut, kini statusnya masih disewa untuk kepentingan dapur MBG. Pak H. Mardaih dan keluarga berharap agar asset yang ada, terus bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat dan kemajuan bangsa, khususnya dalam membangun dan mencerdaskan generasi, para calon pemimpin bangsa.

Bagi saya, sebagai sahabat, beliau dan orang-orang semacam beliau adalah gambaran nyata sosok dermawan seperti Abdurrahman bin Auf di masa Rasulullah. Memiliki harta berlimpah, namun hartanya tidak menguasai hatinya. Harta hanya di tangan, bukan di jiwa. Ia menjadikan kekayaan sebagai sarana untuk berbuat kebaikan dan menebar manfaat seluas-luasnya.

Baginya, “Kekayaan yang hakiki adalah yang disedekahkan. Yang dipegang dan dimiliki hanyalah titipan. Yang akan menemani di kubur dan di akhirat, adalah kekayaan yang disedekahkan,” tegasnya. Sebuah kalimat sederhana, namun penuh makna dan sangat dalam.

Tidak hanya dalam hal materi, pengabdian beliau kepada masyarakat juga luar biasa. H. Mardaih adalah pelayan makam yang ada di perumahan tempat tinggalnya. Ia selalu siap kapan saja jika ada warga yang meninggal dunia. Siang ataupun malam. Tanpa pamrih apa pun. Beliau mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengurus jenazah. Selain itu, beliau juga menjadi penanggung jawab mobil ambulans Yayasan Masjid As-Surur – RW. 10 Candraloka Perum Telaga Kahuripan Bogor, yang terus bergerak melayani warga yang sakit maupun yang membutuhkan layanan pengantaran jenazah.

Semua itu dilakukannya tanpa lelah, dan tanpa mengharap pujian. Khususnya bagi masyarakat di Komplek Perumahan, beliau adalah sosok yang sangat berjasa dan banyak peran.

Apa yang dilakukan H. Mardaih adalah cerminan nyata bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi manfaat bagi orang lain. Semoga apa yang beliau lakukan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih peduli, lebih dermawan, dan lebih ikhlas dalam berbuat kebaikan.

Teriring doa, semoga Allah memuliakan beliau dan keluarganya, melimpahkan keberkahan dalam hidupnya, serta memberikan balasan terbaik di dunia dan akhirat. Amin.(*/Red-Day).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *