Oleh : Muslich Taman, Peserta Program Wisata Religi Masjid Raya Telaga Kahuripan
SwaraJabar.com | Bogor – Ada perjalanan yang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah rasa—dari biasa menjadi luar biasa, dari sekadar kenal menjadi saling menguatkan. Begitulah kisah indah para jamaah masjid dan mushalla di Perumahan Telaga Kahuripan, Kemang, Bogor, dalam program wisata religi yang sarat makna: silaturrahmi yang menghangatkan hati dan thalabul ilmi yang meneguhkan langkah di jalan dakwah.
Malam masih berselimut sunyi ketika langkah-langkah mulai berkumpul di pelataran Masjid Raya Telaga Kahuripan. Tepat pukul 00.00 WIB, Sabtu 09 Mei 2026, wajah-wajah penuh harap menyatu dalam satu tujuan. Di titik jemput Masjid Raya Telaga Kahuripan, Candraloka, satu per satu jamaah hadir. Absen peserta dilakukan, briefing panitia mengalir hangat, lalu doa bersama melangit—memohon keselamatan, keberkahan, dan ilmu yang bermanfaat. Doa dipimpin Ustadz Agus Tri Hutomo.
Pukul 00.15 WIB, roda perjalanan mulai berputar. Rombongan melaju menembus dinginnya malam menuju Panjalu, melalui Bandung dan Tasikmalaya, mampir shalat subuh di masjid Al-Muhajirin Kp. Taman, Ds. Citaman, Kec. Nagreg Kab. Bandung. Dalam gelapnya perjalanan malam, percakapan ringan, lantunan dzikir, dan canda sederhana menjadi pengikat kebersamaan yang tak ternilai.
Saat mentari pagi cerah menyapa, pukul 08.00 WIB rombongan tiba di alun-alun Panjalu. Udara segar menyapa, seakan menjadi salam pembuka dari alam. Jamaah pun membersihkan diri, berwudhu, dan menata hati untuk perjalanan ruhani berikutnya. Pukul 09.30 WIB, setelah sarapan bersama di gajebo tepi danau, momen sederhana yang penuh makna —tawa kecil, saling berbagi, dan rasa syukur yang tak terucap.
Perjalanan berlanjut menuju Situ Lengkong Panjalu. Air danau yang tenang memantulkan langit, seolah mengajak siapa saja untuk merenung. Dengan perahu penyeberangan yang sengaja dibuat dengan rute memutari kawasan, rombongan menuju Pulau Nusa Gede —pulau kecil yang menyimpan jejak sejarah dan spiritualitas. Dengan pemandangan pagi yang menakjubkan.
Di sanalah langkah-langkah tertunduk khidmat, menziarahi makam para leluhur: Prabu Hariang Kancana dan Eyang Borosngora. Doa-doa dipanjatkan, dipimpin oleh Ustadz Lukmanudin Adiguna. Hening terasa hidup. Dalam diam, setiap hati berusaha berdialog dengan Tuhannya —bertaqarrub, memohon ampun, kekuatan, dan keteguhan dalam berdakwah.
Menjelang siang, pukul 10.30 hingga 11.30 WIB, rombongan bergerak menuju Bumi Alit. Dilanjutkan dengan shalat zhuhur dijamak dengan ashar berjamaah di Masjid Agung Panjalu —sebuah penegasan bahwa di manapun kaki berpijak, ibadah tetap menjadi pusat perjalanan. Setelah itu, makan siang bersama menjadi penutup rangkaian kegiatan di Panjalu.
Pukul 13.00 WIB, perjalanan berlanjut menuju Pangandaran. Sepanjang perjalanan, alam seakan bercerita—hamparan hijau, langit luas, ranting pohon kelapa yang bergoyang, dan angin yang berbisik lembut. Semua menjadi tanda kebesaran Allah yang tak pernah habis untuk dikagumi.
Saat senja mulai merunduk, pukul 16.20 WIB, rombongan tiba di Pantai Pangandaran. Debur ombak menyambut, membawa ketenangan yang sulit dilukiskan. Setelah itu, jamaah menuju penginapan yang disiapkan seorang donatur, H. Sujadi, untuk beristirahat—melepas lelah, menyimpan cerita, bertukar curhat, dan menyiapkan diri untuk perjalanan esok hari.
Wisata religi ini bukan sekadar agenda perjalanan. Ia adalah jembatan hati —yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lainnya. Dari yang sebelumnya hanya saling mengenal, kini menjadi saudara dalam perjuangan. Dari yang mungkin berjalan sendiri, kini melangkah bersama dalam barisan dakwah.
Di tengah perjalanan ini, mereka belajar bahwa memakmurkan masjid dan mushalla bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang kebersamaan, keikhlasan, dan kekuatan ukhuwah. Dan alam semesta yang mereka jelajahi menjadi saksi —bahwa setiap langkah menuju kebaikan akan selalu dipeluk oleh keindahan ciptaan-Nya.
Selamat beristirahat, wahai para pejuang dakwah. Malam ini biarkan mimpi indah menghampiri. Esok, perjalanan akan kembali berlanjut—dengan semangat baru, hati yang lebih kuat, dan tekad yang semakin kokoh di jalan-Nya.(*/Red-Mt-Day).
