Oleh : Dr. Muslich Taman, Pendidik dan Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
SwaraBogor.com | Bogor – Di sudut-sudut sunyi pondok pesantren, terdengar suara ayat-ayat suci dilantunkan lirih, dan materi-materi pelajaran agama dimurojaah. Di situlah sedang ditempa jiwa-jiwa besar —anak-anak santri yang kelak, dengan izin Allah, akan menjadi pelita umat.
Mereka bukan sekadar menghafal huruf demi huruf, tetapi sedang bekerja keras menanam cahaya Al-Qur’an di dalam dada, agar kelak menyinari dunia dengan hikmah dan kebaikan. Ada yang sudah kesadaran sendiri, ada yang masih setengah terpaksa, dan ada yang sekadar ikut-ikutan. Semua sedang berproses.
Di titik seperti inilah, peran orangtua dan orang-orang tercinta menjadi begitu penting, agung, dan tak tergantikan. Untuk terus menguatkan dan memberikan pendapingan. Semangat yang terus disiramkan, doa yang tak pernah putus dipanjatkan, serta kata-kata motivatif yang menguatkan, adalah bahan bakar bagi langkah-langkah kecil yang tengah menapaki jalan besar.

Orangtua bukan sekadar sosok yang bekerja dan memenuhi kebutuhan fisik anak-anaknya. Memberikan pakaian dan segala kebutuhan bagi mereka. Tetapi, yang lebih penting ia adalah sumber kekuatan bagi ruh dan jiwa. Ketika seorang anak melangkah dalam mengejar cita-cita —belajar, menghafal, menghadapi masalah, atau berjuang menjadi pribadi yang lebih baik— maka kehadiran sosok orangtua menjadi cahaya yang menuntun langkahnya, asupan energi bagi kekuatan tekadnya. Dengan doa yang tulus di setiap sujudnya, orangtua sedang menanamkan semangat yang tak kasat mata, menguatkan hati anaknya dari kejauhan maupun kedekatan. Kata-kata motivasi yang lembut namun tegas, misalnya, “Ayah dan ibu bangga padamu, jangan pernah menyerah,” mampu menjadi bahan bakar yang menghidupkan semangat yang hampir padam.
Lebih dari itu, pujian yang jujur dan penghargaan dari orangtua memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hadiah materi. Sebuah tepukan di pundak, hadiah tanda apresiasi, atau sekadar senyuman bangga, adalah bahasa cinta yang akan diingat anak sepanjang hidupnya. Anak yang merasa dihargai akan tumbuh dengan keyakinan bahwa usahanya berarti. Ia tidak lagi berjalan sendiri, tetapi merasa ditemani oleh keyakinan ayahnya terhadap dirinya. Support yang konsisten —baik dalam bentuk nasihat, perhatian, maupun kepercayaan— akan membangun mental tangguh dan jiwa yang optimis.
Yang sangat penting, kehadiran fisik orangtua itu sendiri. Atau, siapa pun yang menggantikan sosok keduanya. Saat ayah atau ibu datang dengan wajah cerah, menyapa dengan hangat, memuji dengan tulus, lalu memeluk anaknya dengan penuh kasih, di situlah dunia anak terasa lengkap. Pelukan hangat itu bukan hanya sentuhan, tetapi pesan mendalam, “Kamu tidak sendiri, abi dan umi selalu ada untukmu.” Dari sana lahir semangat yang berlipat, gairah belajar yang tumbuh, dan tekad untuk terus melangkah dalam kebaikan. Sebab bagi seorang anak, dukungan ayah ibu bukan hanya dorongan —melainkan fondasi kokoh yang membuatnya mampu menaklukkan dunia dengan penuh keyakinan.

Dalam banyak momen, kehadiran fisik itu penting. Datang langsung dengan muka ceria yang menyemangati dan gestur tubuh yang menguatkan. Terkadang, seorang anak tidak cukup hanya dimotivasi lewat kata-kata dari jauh. Atau dikirimi doa lewat munajat di atas sajadah di rumah. Mereka butuh kehadiran sosok orangtua dan orang-orang tercinta secara langsung dan pelukan hangat dari mereka.
Anak-anak yang berjuang menuntut ilmu, atau mondok di pesantren, lebih-lebih pesantren tahfizh Al-Qur`an, bukan tidak pernah lelah. Mereka sesungguhnya sering lelah dan futur. Hanya saja mereka banyak yang tidak mau mengeluh dan bercerita. Setangguh-tangguh mereka, mereka adalah anak, seperti anak-anak pada umumnya. Ada hari-hari ketika hafalan terasa berat, ketika rindu rumah menyelinap diam-diam, muncul rasa ingin bermain game online, ingat kumpul asyik bersama teman sepermainan, dan ketika semangat seperti redup tertiup angin kencang.
Di saat-saat itulah, orangtua harus hadir langsung —meski hanya membawa doa dan pesan sederhana, “Jangan menyerah, Nak. Al-Qur’an yang kau jaga, kelak akan menjagamu. Bersusah payah dahulu, bersenang-senang kemudian. Kamu pasti akan mulia dan bahagia…dst.”

Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan, “Jangan pernah lelah dalam menuntut ilmu, jika engkau tak ingin merasakan hinanya kebodohan.” Sebuah nasihat yang tajam, namun penuh kasih. Sebab ilmu adalah kemuliaan, dan kebodohan adalah pintu kehinaan. Maka setiap peluh dalam menghafal ayat, setiap air mata dalam muroja’ah, setiap kantuk yang ditahan saat belajar, sejatinya adalah investasi kemuliaan yang tak ternilai.
Menjadi santri belajar ilmu agama, atau hafizh Al-Qur’an, bukan sekadar capaian intelektual, tetapi perjalanan spiritual. Ia membutuhkan kesabaran panjang, keteguhan hati, dan keyakinan yang terus diperbarui. Dan di balik itu semua, ada orangtua yang tak pernah berhenti percaya—bahwa anaknya sedang meniti jalan kebahagiaan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Ya Allah, kuatkanlah langkah anak-anak yang sedang menuntut ilmu-Mu. Lapangkan hati mereka dalam menghafal dan menjaga Al-Qur’an, firman-Mu. Jadikan mereka kelak ulama yang lurus ilmunya, jernih hatinya, dan luas manfaatnya bagi umat. Anugerahkan kepada mereka kesabaran yang tak mudah runtuh, semangat yang tak mudah padam, serta keikhlasan yang mengantarkan pada ridha-Mu. Wujudkan cita-cita mereka menjadi ulama pencerah umat, yang kehadirannya membawa cahaya bagi banyak jiwa.
Dari pondok-pondok tempat mereka berjuang, insya Allah akan lahir para penjaga peradaban. Dan dari dada-dada yang dipenuhi nilai Al-Qur’an itulah, semoga dunia menemukan kembali arah dan harapan. Wallaahu a’lam.(*/Red-Mt-Rhiday).
