SwaraBogor.com | Bogor – Oleh: Dr.Muslich Taman, Lc., Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
“Sesungguhnya yatim itu bukanlah anak yang kehilangan kedua orangtuanya karena kematian, dan meninggalkannya dalam keadaan lemah. Namun, sejatinya yatim adalah anak yang mendapati ayah dan ibunya hidup bersamanya, tetapi keduanya sibuk dan mengabaikannya.”
Mereka memiliki ayah dan ibu, tinggal serumah, bahkan tidur di bawah atap yang sama. Namun, ada yang hilang dari kehidupan mereka: perhatian, kehangatan, dan kasih sayang orangtua.
Ada pemandangan yang kian akrab di banyak rumah: ayah pulang membawa lelah, ibu sibuk dengan urusan dan tugasnya, sementara anak-anak tenggelam dalam dunianya sendiri. Mereka memang berkumpul, tetapi tak benar-benar berjumpa. Tubuh berdekatan, hati berjauhan. Bahkan sangat disayangkan, sering kali saat mereka berkumpul, masing-masing sibuk dengan layar di genggamannya.
Akhir pekan yang seharusnya menjadi ruang bercengkerama, berubah menjadi pertemuan tanpa percakapan. Senja hari yang semestinya menghadirkan cerita, justru berlalu dalam kesunyian. Anak-anak tumbuh di tengah keluarga yang utuh secara fisik, tetapi perlahan kehilangan kebersmaan dan kehangatan secara emosional.
Mereka bukan yatim dalam pengertian kehilangan ayah atau ibu. Namun, mereka mengalami kesepian yang menyakitkan: memiliki orangtua, tetapi kehilangan kehadiran orangtua dalam kehidupan batinnya. Hidup bersama, tetapi tidak saling bercengkrama.
Al-Qur’an mengingatkan, agar orang beriman menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6). Menjaga keluarga tentu bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pakaian, pendidikan, tempat tinggal, atau kebutuhan material lainnya. Ada amanah yang tak kalah penting: mendidik hati, menemani pertumbuhan, mendengarkan kegelisahan, serta menanamkan iman dan akhlak melalui kasih sayang.
Sebab, anak tidak hanya membutuhkan nafkah untuk bertahan hidup, tetapi juga cinta dan kasih sayang agar jiwanya tumbuh dengan sehat dan gembira.
Ketika rumah kehilangan kehangatan, anak-anak akan mencari tempat lain untuk menemukan perhatian. Mereka mencari teman, tenggelam dalam permainan daring, atau membangun dunia maya yang terasa lebih ramah daripada rumahnya sendiri.
Tubuh mereka mungkin masih berada di ruang keluarga, tetapi pikiran dan perasaannya telah mengembara jauh. Di sinilah bahaya mulai mengintai. Tanpa pendampingan, mereka rentan terjerumus dalam pergaulan yang keliru, kecanduan game online (gaming disorder), paparan konten negatif, bahkan ‘hubungan intim’ digital yang membahayakan.
Tentu, tidak setiap anak yang kurang mendapat perhatian akan tumbuh bermasalah. Namun, ketika kesepian dibiarkan, risiko itu dapat membesar tanpa disadari.
Ironisnya, sebagian orangtua baru menyadari kekeliruannya ketika anak mulai sulit dinasihati, bicara lancang, berani membentak, mengabaikan kewajiban, bahkan melawan orangtua. Saat itu, penyesalan orangtua datang: untuk siapa selama ini tenaga dihabiskan, dan perut lapar sering ditahan, jika anak yang dibesarkan justru tumbuh jauh dari nilai-nilai kebaikan, bahkan berani melawan?
Padahal, bekerja keras mencari nafkah adalah ikhtiar mulia. Namun, jangan sampai kesibukan mencari kebahagiaan keluarga justru membuat kita kehilangan kesempatan membangun kebahagiaan itu sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka, sesibuk apa pun kita, sisakan waktu untuk anak-anak. Tatap wajah mereka, dengarkan cerita mereka, peluk ketika mereka membutuhkan kehangatan, dan dampingi mereka. Atur waktu, letakkan gawai, ciptakan kebersamaan. Hadirkan hati, bukan sekadar tubuh.
Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah; yang mencintai Allah, berbakti kepada orangtua, menyejukkan hati yang lelah, serta melanjutkan cita-cita dengan ilmu dan akhlak mulia. Bermanfaat bagi masyarakat luas.
Sebab, di antara nikmat terbesar bagi orangtua bukanlah melimpahnya harta atau tingginya jabatan, melainkan hadirnya anak shalih yang menjadi penyejuk mata, pelipur lara, dan investasi dunia akhirat.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan masa depan anak, hingga lupa menghadirkan diri dalam masa kecilnya. Sebab, harta bisa dicari kembali, tetapi waktu dan kesempatan untuk mencintai anak tidak selalu datang dua kali.
Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan renungan bagi setiap orangtua: bahwa kehadiran yang penuh kasih sayang sering kali jauh lebih berharga daripada segala kemewahan yang diberikan tanpa kehangatan.Wallahu a`lam bis shawab.(*/Red).
